Kabar UBB
Universitas Bangka Belitung
Kabar UBB
Universitas Bangka Belitung
29 September 2026 | 08:36:52 WIB
Perkuat Reputasi Kampus, UBB Bekali Pengelola Kehumasan dengan Strategi Branding dan Komunikasi Digital
Bangka, UBB — Universitas Bangka Belitung (UBB) terus memperkuat pengelolaan komunikasi publik dan branding institusi melalui Workshop Kehumasan bertajuk “Strategi Branding Kampus: Membangun Identitas, Narasi, dan Reputasi Perguruan Tinggi” yang dilaksanakan di Ruang Balai Cendekia, Gedung Antar Lembaga UBB, Senin (28/9/2026).
Workshop ini diikuti hampir 50 peserta dari lingkungan internal UBB, yang terdiri atas tenaga kependidikan pengelola media sosial, mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kemahasiswaan (Ormawa), serta tim kreatif mahasiswa. Kegiatan ini menjadi ruang penguatan kapasitas pengelola kehumasan dan media sosial agar mampu membangun komunikasi institusi yang semakin terarah, konsisten, dan adaptif terhadap dinamika informasi.
Dalam sambutannya, Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama UBB, Hesty, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kesediaan para narasumber dalam mendukung pelaksanaan workshop.
Ia berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan saksama sehingga materi yang diperoleh dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas kehumasan di masing-masing unit.
“Para peserta diharapkan dapat mengikuti kegiatan ini dengan saksama sehingga pengelola kehumasan di tingkat universitas, fakultas, program studi, serta Ormawa di tingkat universitas dan fakultas semakin mampu mengelola informasi dan berbagai persoalan komunikasi, baik yang berasal dari dalam maupun luar UBB,” ujarnya.
Pada sesi pertama, Khalid Vikriadi, B.H.Sc., M.H.Sc. membawakan materi “Merancang Identitas dan Positioning Kampus yang Kuat”. Ia mengulas urgensi institutional branding, perbedaan branding, image, dan reputation, identifikasi keunggulan kampus, target audience, unique value proposition, campus positioning, key message, hingga konsistensi identitas dan komunikasi antarunit.
Menurut Khalid, perguruan tinggi saat ini tidak hanya bersaing dalam aspek akreditasi dan kurikulum, tetapi juga dalam membangun persepsi publik. Calon mahasiswa, orang tua, mitra industri, hingga calon dosen dapat membentuk penilaian awal terhadap kampus melalui media sosial, mesin pencarian, website, maupun cerita alumni.
Ia menekankan bahwa branding yang dikelola secara konsisten membantu seluruh unit berbicara dalam satu identitas, memperjelas keunikan kampus, serta membangun reputasi melalui cerita dan bukti yang berkesinambungan. Keunggulan kampus juga harus dapat dibuktikan, memiliki pembeda, relevan bagi audiens, dan mudah dikomunikasikan.
Paparan kemudian dilanjutkan oleh Ade Mayasanto, S.Pd., M.M. melalui materi “Taktik Komunikasi Publik Humas”. Ia menekankan bahwa humas perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi penyebar informasi, tetapi juga harus mampu mengelola narasi, menemukan nilai berita, membangun positioning, serta menangani isu dan reputasi institusi.
Ade menjelaskan bahwa publik saat ini tidak lagi sekadar menerima informasi, tetapi juga mengomentari, membandingkan, memproduksi, dan menyebarkannya melalui berbagai kanal. Karena itu, pengelola kehumasan perlu menyampaikan informasi dengan memperhatikan fakta, konteks, dampak, bukti, serta relevansinya bagi publik.
Dalam pengemasan berita kampus, ia memperkenalkan empat pilar, yakni prestasi, program, inovasi, dan kontribusi. Informasi kegiatan, menurutnya, tidak cukup hanya menjelaskan apa yang terjadi, tetapi juga perlu menunjukkan manfaat, kebaruan, dampak, dan perubahan yang dihasilkan.
Ade juga membahas pentingnya respons yang tepat ketika institusi menghadapi isu atau informasi negatif. Prinsip yang ditekankan adalah “cepat bukan berarti terburu-buru”. Pengelola kehumasan perlu tetap tenang, melakukan verifikasi, serta mencermati perkembangan situasi sebelum menentukan respons.
“Jika muncul informasi negatif terhadap suatu institusi, hal pertama yang harus dilakukan adalah tetap tenang dan mengendalikan emosi. Tidak perlu terburu-buru memberikan tanggapan. Kita perlu melihat perkembangan situasi terlebih dahulu, apakah isu tersebut mulai melandai atau justru semakin meningkat,” ujar Ade.
Sesi tersebut berlangsung interaktif. Salah satu peserta, Resty, mahasiswa FISIP UBB, mengajukan pertanyaan mengenai independensi pemberitaan ketika kepemilikan suatu perusahaan media memiliki keterkaitan dengan figur yang juga aktif dalam politik. Menanggapi pertanyaan tersebut, Ade mengajak peserta untuk tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan, tetapi melihat pemberitaan secara kritis melalui proses verifikasi, penggunaan sumber, konteks berita, serta penerapan prinsip-prinsip jurnalistik.
Workshop kemudian dilanjutkan dengan paparan Enti Hidayati, S.E., M.M. mengenai “Digital Branding Kampus: Membangun Identitas, Narasi, dan Reputasi Perguruan Tinggi”. Ia membahas digital branding melalui aspek branding, konten, distribusi konten, engagement, reputasi, hingga kepercayaan publik.
Enti menjelaskan bahwa pola pencarian informasi mengenai perguruan tinggi telah berubah. Jika sebelumnya promosi kampus banyak mengandalkan brosur, spanduk, pameran, dan website, kini calon mahasiswa dapat memulai pencarian melalui mesin pencari, media sosial, konten mahasiswa, ulasan alumni, hingga website sebelum mengambil keputusan. Digital branding, menurutnya, bukan sekadar membuat kampus terlihat aktif di media sosial, tetapi bagaimana kampus dipersepsikan melalui jejak digitalnya.
Ia menekankan bahwa identitas kampus perlu ditopang oleh positioning yang jelas, pesan utama, bukti, dan konten yang konsisten. Klaim mengenai keunggulan kampus harus diperlihatkan melalui bukti nyata, seperti kerja sama industri, program magang, dosen praktisi, alumni, proyek mahasiswa, riset, maupun prestasi.
Dalam pengelolaan konten, peserta diperkenalkan pada lima content pillars, yakni academic, student life, achievement, impact, serta people & story. Kelima pilar tersebut dapat menjadi rujukan dalam menyusun konten kampus yang lebih beragam, relevan, dan dekat dengan audiens.
Enti juga mendorong mahasiswa agar tidak ragu untuk mulai berkarya melalui media digital.
“Mahasiswa harus berani mulai membuat konten dari sekarang. Tidak perlu terlalu memikirkan jumlah viewer di awal, yang penting adalah mulai berkarya dan konsisten. Apa pun bisa menjadi sebuah konten, selama kita mampu melihat nilai dan cerita di baliknya,” ujarnya.
Pesan tersebut mendorong mahasiswa, khususnya yang terlibat dalam Ormawa dan tim kreatif, untuk lebih percaya diri memanfaatkan media digital dalam menyampaikan aktivitas, prestasi, cerita, dan berbagai sisi kehidupan kampus secara kreatif.
Enti turut menekankan bahwa efektivitas digital branding tidak cukup diukur dari jumlah pengikut media sosial, tetapi juga melalui indikator seperti awareness, engagement, trust, hingga conversion.
Kehadiran para narasumber yang memiliki kompetensi dan pengalaman di bidangnya membuat workshop berlangsung dinamis dan interaktif. Banyaknya pertanyaan yang disampaikan peserta menjadikan kegiatan tidak hanya sebagai ruang penyampaian materi, tetapi juga forum berbagi pengalaman, membahas persoalan kehumasan, dan bertukar gagasan mengenai pengelolaan komunikasi serta branding kampus.
Melalui workshop ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami branding sebagai persoalan visual, tetapi sebagai strategi institusi yang dibangun melalui identitas, narasi, bukti, konsistensi komunikasi, pengelolaan isu, serta pemanfaatan kanal digital secara efektif.
Workshop Kehumasan UBB diharapkan semakin memperkuat sinergi komunikasi di tingkat universitas, fakultas, program studi, hingga organisasi kemahasiswaan sehingga setiap informasi yang disampaikan kepada publik mampu membawa identitas UBB secara konsisten sekaligus memperkuat reputasi universitas. (Humas UBB)
UBB Perspectives
Satu Visi, Banyak Budaya: Mengapa Integrasi SDM Global Tidak Semudah yang Dibayangkan
Menjaga Ekosistem: Investasi untuk Masa Depan Bumi
Antara Jaring dan Buku Pilihan Hidup Anak Remaja Putus Sekolah di Kepulauan Pongok
Validitas Peringkat UBB: Membongkar Anomali Webometrics
Meski Ilegal, Mengapa Bisnis Thrifting Terus Menjamur?
Tantangan Pemimpin Baru dan Ekonomi Bangka Belitung
Sastra, Kreativitas Intelektual, dan Manfaatnya Secara Ekonomi
Lindungi Anak Kita, Lindungi Masa Depan Bangsa
Akankah Pilkada Kita Berkualitas?
Hulu Hilir Menekan Overcrowded
Penguatan Gakkumdu untuk Mengawal Pesta Demokrasi Berkualitas
Carbon Offset : Blue Ocean dan Carbon Credit
Hari Lingkungan Hidup: Akankah Lingkungan “Bisa” Hidup Kembali?
FAKTOR POLA ASUH DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK
MEMANFAATKAN POTENSI NUKLIR THORIUM DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG : PELUANG DAN DAMPAK LINGKUNGAN
Pengaruh Sifat Fisika, Kimia Tambang Timah Terhadap Tingkat Kesuburan Tanah di Bangka Belitung
Akuntan dan Jurnalis: Berkolaborasi Dalam Optimalisasi Transparan dan Pertanggungjawaban
Sustainable Tourism Wisata Danau Pading Untuk Generasi Z dan Alpa
Perlunya Revitalisasi Budaya Lokal Nganggung di Bangka Belitung
Semangat PANDAWARA Group: Dari Sungai Kotor hingga Eksis di Media Sosial
Pengaruh Pembangunan Produksi Nuklir pada Wilayah Beriklim Panas
Pendidikan dan Literasi: Mulailah Merubah Dunia Dari Tindakan Sederhana
Mengapa APK Perguruan Tinggi di Babel Rendah ?
Dekonstruksi Cara Pikir Oposisi Biner: Mengapa Perlu?
PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DENGAN ASAS GOOD GOVERNANCE
UMP Bangka Belitung Naik, Payung Hukum Kesejahteraan Pekerja atau Fatamorgana Belaka?
Peran Generasi Z di Pemilu 2024
Pemilu Serentak 2024 : Ajang Selebrasi Demokrasi Calon Insan Berdasi
Menelusuri Krisis Literasi Paradigma dan Problematik di Bumi Bangka Belitung
Jasa Sewa Pacar: Betulkah Menjadi sebuah Solusi?
Peran Sosial dan Politis Dukun Kampong
Mahasiswa dan Masalah Kesehatan Mental
Analogue Switch-off era baru Industri pertelevisian Indonesia
Di Era Society 50 Mahasiswa Perlu Kompetensi SUYAK
HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah merdekakah kita?
Pemblokiran PSE, Pembatasan Kebebasan Berinternet?
Pentingnya Pemahaman Moderasi Beragama Pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Umum
SOCIAL MAPPING SEBAGAI SOLUSI TATA KELOLA SUMBER DAYA ALAM